Muatan Lokal Perpustakaan Universitas Negeri Malang - UM Digital Repository - UM Institusional Repository
 

Pencarian » Abstrak

 

KARYA ILMIAH - SKRIPSI

 


Refleksi dunia kebatinan Jawa dalam novel bilangan FU karya ayu utami (Sebuah kajian sosiologi sastra) / Tsabit Nur Pramita

-- (Read : 6 Times)
 


Kode Buku : Rs 809.3552 PRA r

Universitas Negeri Malang. Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia 2009
 

ABSTRAK
Pramita Tsabit Nur. 2009. Refleksi Dunia Kebatinan Jawa dalam Novel
Bilangan Fu Karya Ayu Utami (Sebuah Kajian Sosiologi Sastra).
Skripsi Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Jurusan Sastra
Indonesia. Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing:
Prof. Dr.Soedjijono, M.Hum
Kata Kunci: Kebatinan, Refleksi, Novel, Sosiologi
Novel merupakan salah satu bentuk sastra yang berbentuk prosa. Kejadian
yang terdapat dalam novel merupakan khayalan atau rekaan yang diceritakan oleh
pengarang. Novel memiliki unsur-unsur pembagian cerita. Unsur tersebut berupa
unsur intrinsik dan ekstrinsik. Novel sebagai sebuah karya fiksi menawarkan
sebuah dunia, dunia yang berisi model kehidupan yang diidealkan, dunia
imajinatif, yang dibangun melalui berbagai unsur intrinsiknya seperti peristiwa,
plot, tokoh (dan penokohan), latar, sudut pandang, dan lain-lain yang kesemuanya
tentu saja, bersifat imajinatif. Karya sastra merupakan cerminan dari masyarakat.
Cerminan atau refleksi dari sebuah kehidupan sosial masyarakat dapat terekam
dalam sebuah karya fiksi yang menarik
. Sosiologi sastra merupakan penggabungan dua disiplin ilmu yang berbeda
yaitu sosiologi dan sastra. Perbedaan antara keduanya, adalah bahwa sosiologi
melakukan analisis alamiah yang obyektif, sedangkan Sastra mencoba memahami
setiap kehidupan sosial dari relung perasaan yang terdalam. Yang satu beranjak
dari hasil pemikiran sedangkan yang satu lagi beranjak dari hasil pergulatan
perasaan yang merupakan dua kutub yang berbeda. Seandainya ada dua orang
melakukan penelitian sosiologi dengan obyek yang sama, hasil penelitian itu besar
kemungkinan mendapatkan hasil yang sama. Sedangkan, seandainya ada dua
orang penulis novel membuat sebuah cerita dengan setting tempat dan obyek
masyarakat yang sama, hasil yang didapatkan cenderung berbeda sebab cara-cara
manusia menghayati masyarakat dengan perasaannya berbeda-beda menurut
pandangan orang-seorang.
Penelitian ini secara umum bertujuan memperoleh deskripsi tentang dunia
kebatinan jawa dalam novel Bilangan Fu karya Ayu Utami. Adapun tujuan
khusus penelitian ini, yakni mendeskripsikan (1) kebatinan jawa dari unsur ajaran
agama, (2) kebatinan jawa dari unsur animisme-dinamisme, dan (3) kebatinan
jawa dari unsur falsafah hidup yang terkandung dalam novel.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif
kualitatif dengan pendekatan Sosiologi Sastra. Sumber data dalam penelitian ini
adalah teks novel Bilangan Fu karya Ayu Utami. Data berupa unit-unit teks yang
berisi deskripsi kebatinan jawa dalam paparan bahasa berbentuk monolog,
dialog, dan narasi. Pengumpulan data dilakukan dengan membaca sumber data
dan peneliti berperan sebagai instrument (human instrument). Peneliti melakukan
identifikasi, klasifikasi, dan kodifikasi data berdasarkan permasalahan yang
dikaji. Teknik pengumpulan data penelitian ini menggunakan teknik dokumentasi
atau studi kepustakaan. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif
dengan menyeleksi, mengklasifikasi, menafsirkan, dan memaknai data kemudian
mengambil kesimpulan.
i
Berdasarkan hasil analisis data diperoleh beberapa kesimpulan,
Pertama, kebatinan jawa dari unsur ajaran agama dalam novel Bilangan Fu karya
Ayu Utami, memiliki empat tahapan mistik yang diyakini oleh masyarakat Jawa,
salah satunya masyarakat desa Watugunung. Empat tahapan mistik tersebut antara
lain : syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat. Keempat tahapan mistik tersebut
dimunculkan dalam ritul-ritul mistik yang dilakukan oleh tokoh-tokoh yang
terdapat dalam novel tesebut. Selain dapat dilihat dari sikap tokoh, hal tersebut
juga terdapat dalam alur, setting, dan unsur-unsur cerita yang lain.
Kedua, kebatinan jawa dari unsur animisme-dinamisme, yaitu pelaksanaan
ritual slametan sebagai ritual pokok yang selalu ada dalam setiap peristiwa yang
dialami oleh orang jawa, Slametan dilakukan sebagai wujud rasa hormat dan
menghargai makhluk lain yang hidup di jagad raya Ritual ini telah menjadi tradisi
yang mutlak dilakukan oleh masyarakat Jawa, termasuk warga desa Watugunung.
Bentuk kedua adalah kepercayaan terhadap adanya makhluk halus dan arwah
nenek moyang. Masyarakat desa watugunung sangat percaya bahwa arwah-arwah
nenek moyang yang pernah menjadi tetua di desa tersebut, masih tinggal di
tempat-tempat tertentu di desa tersebut. Untuk itu mereka selalu menghormati
dengan tidak mengusik tempat tinggal roh-roh halus tersebut. Jika manusia tidak
mengusik kehidupan makhluk-makhluk halus tersebut, maka roh-roh tersebut
tidak akan mengusik kehidupan manusia.
Ketiga, kebatinan jawa dari unsur Falsafah Hidup, terdiri dari empat
aspek, yaitu pasemon atau ungkapan, petungan jawa, wayang, sebagai lambang
simbolisme kehidupan, dan pemahaman Mamayu Hayuning Bawana. Ketiga
aspek-aspek dalam Falsafah Hidup yang terdapat dalam novel Bilangan Fu
tersebut, diwujudkan pada sikap saling menghormati sesama makhluk Tuhan, baik
sesama manusia, maupun makhluk halus. Sikap hormat terhadap makhluk halus
dilakukan dalam bentuk tidak mengusik tempat tinggal mereka, yaitu pohonpohon
yang dianggap keramat. Dengan demikian akan terwujud keseimbangan
kosmos.Saran-saran yang dapat disimpulkan berdasarkan kesimpulan tersebut,
yakni (1) peneliti berikutnya yang melakukan penelitian yang sejenis, diharapkan
dapat menggunakan penelitian ini sebagai referensi penelitian dan disertai
pengembangan masalah dari sudut pandang yang berbeda, (2) bagi pemerhati
Sastra, penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran tentang dunia
kebatinan yang desawa ini semakin jarang menyentuh kesusastraan Indonesia dan
(3) bagi pendidik, penelitian ini dapat dijadikan referensi untuk melakukan
apresiasi Sastra pada siswa-siswi dalam mengkaji karya Sastra.

 

Karya yang terkait

Pandangan filsafat eksistensialis dalam novel Merahnya Merah karya Iwan Simatupang dan manfaatnya bagi pengajaran apresiasi sastra di SMA
Ihsan Abraham


Kepribadian tokoh utama novel larung karya Ayu Utami : kajian psikoanalisis / oleh Reny Rahmawati

Mitos semar dalam novel POL" karya Putu Wijaya / Nanik Sulistiani"

Pemenuhan kebutuhan tokoh dalam novel Supernova: Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh karya Dewi Lestari / Patricia Nur Ikawaty Maflani

Manifestasi kehidupan priyayi dalam novel Para Priyayi karya Umar Kayam (sebuah tinjauan sosiologis)
oleh Anis Mahmudah

Karakter sebagai unsur utama penggerak cerita sebuah tinjauan terhadap novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari
oleh Wiwik Andayani

Absurditas tokohnutama dalam novel die Leiden des jungen werther karya johann wolgang von goethe dengan pendekatan eksistensialisme oleh Churin Imamah Romadhona

Analisis aspek sosiologi pedesaan pada novel Pergolakan karya Wildan Yatim
oleh Ari Rahmadewi

Motivasi pelaku kawin sirri di Desa Kalisat Kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan ditinjau dari aspek sosiologis / Imama Qurroti A'yuni

 

back to top

Copyright (C) 2009 UPT Perpustakaan Universitas Negeri Malang